Pram dan Naskah yang Dirampas



AKASIA.ID - Oleh: Ahmad Soleh*

Saya Ingin Lihat Semua Ini Berakhir. Kalimat itu bukan sekadar judul buku yang baru saja saya khatamkan. Buku terbitan Komunitas Bambu ini adalah sebuah kesaksian yang menyesakkan, berisi esai tajam August Hans den Boef dan transkrip wawancara intim antara Kees Snoek dengan sang maestro, Pramoedya Ananta Toer.

Membaca lembar demi lembar buku ini terasa seperti membongkar gudang ingatan yang sengaja digembok oleh sejarah. Informasinya begitu bernas, menukil sisi hidup Pram yang jarang tersentuh: tentang bagaimana seorang penulis dibentuk oleh represi, dan bagaimana karya-karyanya—anak kandung pikirannya—dirampas, disita, hingga dipaksa lenyap dari peradaban.

Jauh sebelum ia dikenal sebagai kandidat Nobel Sastra, Pram adalah pemuda yang ditempa oleh zaman kolonial. Di kantor berita Domei, ia bukan sekadar juru ketik. Ia adalah saksi hidup pertemuan intelektual besar. Pram menceritakan bagaimana ia belajar steno (tulisan singkat) dari sosok-sosok yang kelak mengguncang dunia:

"Walaupun saya tidak lulus sekolah menengah, saya juga dipilih untuk belajar menulis steno. Dosen-dosen saya pada waktu itu adalah Hatta, Sukarno, Maroeto Daroesman dan Tatoe Besar. Mata pelajaran steno diajarkan oleh Karoendeng," ujar Pram.

Ingatan Pram adalah keajaiban sekaligus kutukan. Ia ingat betul bagaimana ketidakadilan di Domei memaksanya melarikan diri, menyusuri tanah Jawa hingga ke kaki Gunung Kelud demi menghindari kejaran serdadu Kempetai yang mematikan.

Karier Pram adalah rentetan kehilangan yang sistematis. Saat menjadi tentara sekaligus koresponden di Cikampek, ia menulis roman berjudul Sepuluh Kepala NICA. Nahas, naskah itu raib setelah ia serahkan ke pencetak buku di Pasar Baru. Tak berhenti di situ, pada 23 Juli 1947, Marine Belanda merampas naskah-naskah lainnya.

Kehilangan demi kehilangan itu ia tuturkan dengan nada yang dingin namun pedih. Ada buku harian yang disita hingga menyebabkan temannya dipenjara, hingga naskah yang justru dijadikan senjata untuk menyerang pribadinya. Namun, puncak dari segala vandalisme intelektual ini terjadi pada tahun 1965.

Bukan hanya kebebasannya yang direnggut, tapi seluruh semesta kreatifnya: catatan harian, riset tentang Kartini, naskah sejarah bahasa Indonesia, studi tentang Abdullah bin Abdul Kadir Munsji, hingga dua bagian berharga dari trilogi Gadis Pantai.

"Semuanya dirampas sekaligus pada 13 Oktober 1965. Seisi rumah dijarah," ujar Pram.

Sejarah mencatat bahwa penguasa bisa merampas kertas dan membakar tinta, tetapi mereka selalu gagal membunuh ingatan. Naskah-naskah Pram mungkin telah menjadi abu atau raib dalam karung jarahan, tetapi semangat "suara dari bawah" yang ia tuliskan tetap berumur lebih panjang dari para perampasnya. Menjaga karya Pram yang tersisa bukan sekadar apresiasi sastra, melainkan sebuah tindakan melawan lupa.

0 Komentar