Dalam pelatihan tersebut, Gol A Gong menjelaskan bahwa kekuatan sebuah memoar terletak pada bagaimana penulis mampu melihat kembali peristiwa di masa lalu dan menemukan makna atau transformasi di dalamnya. "Memoar itu harus mengandung refleksi. Kejadian-kejadian yang dialami menjadi bahan perenungan yang disisipkan secara halus ke dalam narasi," ungkap penulis produktif tersebut.
Ia juga memberikan tips spesifik bagi para peserta yang ingin menuliskan pengalaman perjalanannya. Menurutnya, penulis tidak perlu menceritakan seluruh kronologi perjalanan dari awal hingga akhir, melainkan cukup fokus pada satu peristiwa atau momen paling berkesan yang berhasil mengubah sudut pandang atau cara berpikir penulis.
Sesi yang berlangsung interaktif ini diwarnai dengan pemaparan berbagai draf cerita dari para peserta, mulai dari kisah perjuangan menghadapi tantangan karier, pengalaman spiritual, hingga cerita perjalanan mencari jati diri.
Menanggapi peserta yang memiliki kisah sensitif terkait isu sosial atau SARA, Gol A Gong memberikan saran bijak. Dia menyarankan agar topik-topik yang berisiko memicu konflik sosial sebaiknya dituangkan dalam bentuk novel fiksi. Dengan cara ini, pesan moral dan esensi cerita tetap tersampaikan namun penulis tetap terlindungi secara hukum dan etika sosial.
Indra dari SIP Publishing, yang turut mendampingi dalam sesi tersebut, berharap pelatihan ini menjadi pemantik bagi para peserta untuk segera menyelesaikan naskah mereka. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir penulis-penulis baru yang mampu mendokumentasikan sejarah personal mereka ke dalam sebuah buku yang berkualitas dan bermakna.
Mau Promonya: Klik
Mau Daftar: Klik
.png)


0 Komentar