GeBuk Perdana, Hadirkan 3 Narasumber Menggeledah Buku Puisi Ahmad Soleh


AKASIA.ID, JAKARTA - Pernahkah kamu duduk sendirian di kamar mandi, lalu tiba-tiba fokusmu terlempar pada suara tetesan air dari keran yang rusak? Bagi kebanyakan orang, itu adalah gangguan yang menyebalkan. Namun, bagi Ahmad Soleh, bunyi peluk, peluk, peluk tersebut adalah ketukan mistis yang membuka gerbang ingatan. Dari sana, sebuah mahakarya lahir: Jika Kangen adalah Sebuah Keran yang Bocor, Bagaimana Bunyinya?

Pada Sabtu sore yang teduh (13/6/2026), platform Zoom Meeting riuh oleh kehadiran lebih dari 60 pasang mata. Mereka tidak sedang berkumpul untuk rapat formal, melainkan untuk sebuah ritual seru bertajuk GeBuk (Geledah Buku) yang diinisiasi oleh Akademi Bahasa dan Sastra Indonesia (AKASIA) bekerja sama dengan Penerbit Irfani. 

Sore itu, dipandu oleh pegiat AKASIA, Gina Ristiana, kami semua diajak menelusuri lorong waktu, menguliti 93 puisi yang ditulis Soleh dalam rentang waktu 2021 hingga awal 2026.

Selama ini, kata "kangen" sering kali dimonopoli oleh drama dua sejoli yang sedang kasmaran atau terpisah jarak. Buku ini datang untuk mendobrak ego tersebut. Kangen, di tangan Ahmad Soleh, adalah sebuah spektrum yang luas.

Dengan gaya santai khasnya, Soleh bercerita di awal sesi,

"Saya sebetulnya terinspirasi dari keran yang bocor, dari suara tetesan air di kamar mandi. Ketika kita mendengar itu dengan penuh perhatian, ternyata memiliki suatu makna... Jangan-jangan ketika kita merindukan sesuatu, kita itu cuma butuh untuk dipeluk, untuk dirangkul." 

Ia tertawa kecil saat melontarkan pertanyaan reflektif kepada audiens, "Kangen ini punya spektrum yang luas. Pertanyaan sederhananya, kangen itu sebuah peristiwa atau cuma perasaan kita aja? Jangan-jangan kitanya kangen, dianya enggak." Sebuah sentilan jenaka yang langsung mencairkan suasana Zoom sore itu.

Saat Kata Menemukan Melodi

Daya pikat puisi-puisi Soleh diakui langsung oleh Rizki Gatra, seorang pegiat musikalisasi puisi yang hadir sebagai salah satu pembedah. Bagi Rizki, Soleh bukan sekadar menulis, melainkan sedang "bertani".

"Judul puisinya kan bertanya bagaimana bunyinya? Kalau Bang Soleh, bunyinya 'peluk, peluk, peluk'. Dan saya bersepakat bahwa kangen itu memang berbunyi peluk," ungkap Rizki hangat.

Sore itu, Rizki bahkan memberikan kejutan dengan menampilkan potongan musikalisasi puisi pendek yang ia gubah dari bait-bait terakhir buku Soleh, membuktikan bahwa puisi-puisi kontemporer ini memiliki ketukan ritme yang sangat musikal.

Namun, ruangan digital benar-benar mendadak khidmat saat diskusi bergeser membahas tema keluarga, khususnya tentang sosok Ayah. Zulfa Wafirotul Husna, panelis muda yang mewakili suara Gen Z, membedah bagaimana tajam dan jujurnya Soleh memotret realitas seorang kepala keluarga lewat puisi seperti "Dompet Ayah".

"Di puisi tentang ayah, digambarkan bapak-bapak mencari nafkah itu hanya ada kata kerja, tidak ada libur," urai Zulfa memecah keheningan. "Ayah itu tampaknya kuat, tapi ternyata menyimpan banyak lelah."

Puisi ini seolah menjadi jembatan pengertian bagi anak muda zaman sekarang: bahwa diamnya seorang ayah atau kakunya ia dalam mengekspresikan emosi, sering kali bukan karena tidak ada rasa kangen, melainkan karena energinya habis terkuras demi memastikan dapur rumah tetap ngebul.

Menyentil Manusia Modern yang Kehilangan Fokus

Buku ini tidak membiarkan pembacanya larut dalam romansa mendayu-dayu. Melalui kacamata akademisi Annisa Aprilia Fitri, terungkap bahwa Ahmad Soleh menggunakan teknik puisi prosais (puisi naratif serupa cerita pendek) untuk melayangkan kritik sosial yang tajam. Salah satu yang paling menggelitik adalah puisi berjudul "Rencanaku Baca Buku Puisi Hasan Aspahani Gagal Lagi".

"Ahmad Soleh menampilkan kritik terhadap manusia modern yang ternyata banyak distraksi digital, seperti harus membalas pesan atau kesibukan sehari-hari, hingga akhirnya kehilangan fokus terhadap hal-hal yang sebenarnya penting dalam hidup," papar Anis.

Diksi-diksi kekinian seperti WhatsApp, komentar media sosial, hingga kata cuan bertebaran di dalam buku ini. Sebuah strategi genius dari Soleh agar karyanya membumi dan akrab di telinga generasi muda tanpa kehilangan ruh puitisnya.

Menampung Tetesan Jiwa

Ketika acara GeBuk berakhir dan tombol "Leave Meeting" ditekan, ada satu kehangatan yang tertinggal di dada para peserta. Diskusi sore itu menyadarkan komunitas kita bahwa puisi terbaik tidak perlu lahir dari menara gading dengan bahasa-bahasa dewa yang rumit.

Puisi terbaik lahir dari kerelaan kita untuk mengamati hal-hal kecil di sekitar—mulai dari pesan teks yang digantung, dompet ayah yang menipis, hingga keran bocor di sudut sepi rumah kita. Seperti kata sang moderator, Gina Ristiana, di penghujung acara: jika kangen adalah sebuah keran yang bocor, bunyi apa yang sebenarnya masih tersisa di hati kita hari ini?

Bagi kamu yang belum memeluk buku ini, bersiaplah untuk menemukan bunyimu sendiri.

0 Komentar